Hujan dan Kepastian
![]() |
“Saya boleh duduk di sini, Mbak?” pinta ibu itu sambil mengelap peluh di dahi dengan ujung jariknya.
“Oh, silakan, Bu?” ucap Kaila ramah.
“Ngasta [2] di mana, Mbak?” Ibu itu bertanya.
“Saya ngajar di SMP Binatama, Bu?” jawab Kaila sambil memasukkan ponselnya ke saku.
“Ibu baru pulang dari pasar? Ibu jualan apa?” Kaila tertarik dengan tenggok yang dibawa ibu itu.
“Ibu jualan keripik tempe, Mbak. Buatan sendiri. Yah, untung sedikit lumayan lah bisa untuk makan,” kata ibu itu sambil tersenyum.
Kaila mengerutkan dahinya, memandang cara ibu tersenyum, Kaila merasa tidak asing dengan wajah itu. Tapi di mana?
Kaila menoleh, terlihat sang ibu kerepotan mengangkat tenggoknya.
“Saya bantu, Bu?” ucap Kaila seraya menempatkan tenggok di pinggang ibu.
“Terima kasih, Mbak,” kata ibu sambil memegang lengan Kaila.
Seketika dada Kaila berdesir, ada apa ini? Ibu itu duduk di bangku belakang, karena barang bawaannya diletakkan di bagasi belakang bus. Sementara Kaila memilih duduk di bangku depan. Setelah menempatkan tubuhnya di kursi penumpang, Kaila segera memposisikan diri senyaman mungkin untuk tidur. Ya, Kaila sering tidur di atas bus karena perjalanan ke rumah Kaila ditempuh selama satu jam. Sopir dan kondektur sudah sangat hafal, sehingga Kaila merasa aman tanpa khawatir terjadi kejahatan di angkutan umum tersebut.
Sejak hari itu, hampir tiap sore Kaila selalu bertemu dengan ibu pembawa tenggok. Desiran di dada Kaila masih sering terasa ketika bertemu dan bersentuhan dengan ibu itu. Kaila mengabaikan perasaannya.
“Ah, mungkin hanya kebetulan saja,” batin Kaila menenangkan diri.
Sore itu, Kaila berlarian menuju halte tempat biasa ia menunggu bus langganannya. Ransel berisi laptop dipeluknya erat-erat, takut terkena tetesan air hujan yang cukup deras. Tidak seperti biasa, sore itu tiba-tiba turun hujan, padahal musim kemarau belum usai. Kaila mengusap lengannya berulang-ulang. Dingin terasa menusuk ditambah baju dinasnya yang basah karena Kaila lupa tidak membawa payung hari itu.
Di seberang jalan, samar-samar Kaila melihat ibu pembawa tenggok sedang menunggu jalan sepi untuk menyeberang. Ingin rasanya Kaila menolong ibu menyeberang, namun hujan yang cukup lebat menghalangi Kaila untuk mendekat.
Tiba-tiba ... braaakkk! ...
suara benda keras dan besar menghantam aspal. Kaila terkejut melihat dua tubuh terguling di tepi jalan, sementara sebuah sepeda motor dengan roda yang masih berputar terlempar tak jauh dari keduanya. Kaila berlari mendekat dan segera mencari pertolongan. Entah mendapat keberanian dari mana Kaila menyetop sebuah mobil pick up yang sedang melintas untuk membantu membawa kedua korban ke rumah sakit terdekat. Sambil gemetar, Kaila mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
“Assalamu’alaikum, Yah,” ucap Kaila begitu telepon di seberang terangkat.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa, Bun?” balas lelaki di seberang telepon.
“Ayah jemput bunda di rumah sakit Harapan Kita, ya? Tadi ada kecelakaan, trus bunda mengantar korban ke rumah sakit," jelas Kaila cepat, agar suaminya tidak khawatir dengan kondisinya.
“Oke, ditunggu ya. Ayah langsung berangkat. Assalamu’alaikum.”
“Nggih, yah. Wa’alaikumsalam,” balas Kaila sambil menutup teleponnya.
Kaila menghampiri ibu yang terbaring lemah di bed IGD rumah sakit Harapan Kita. Dari hasil diagnosa perawat, kemungkinan ibu mengalami retak di tulang keringnya. Perawat meminta Kaila untuk menghubungi keluarga pasien agar dokter bisa segera memberikan penanganan.
“Maaf, Bu apakah saya bisa menghubungi keluarga ibu? Suami atau putra ibu?” tanya Kaila lembut.
“Suami saya meninggal beberapa tahun yang lalu. Saya tinggal dengan anak laki-laki saya. Dia masih bujang, dan belum mau menikah sejak kekasihnya menikah dengan laki-laki lain.” Kata ibu dengan wajah sendu.
“Ibu bisa memberitahu saya kontak putra ibu?” Pinta Kaila.
“Iya, ada nomor HP anak saya di dompet saya, Mbak,” kata ibu sambil menunjuk tenggok yang selalu ia bawa.
Kaila segera mengambil dompet yang dimaksud. Perlahan Kaila membuka retsleting dompet kain bermotif batik yang sudah berubah warna itu. Di dalamnya terdapat segulung uang kertas dan beberapa receh hasil jualan keripik tempe hari ini. Kaila mencari kertas yang dimaksud si ibu. Di kertas itu, terdapat sederet nomor dan nama yang membuat Kaila cukup kaget.
“Cahyo?” batin Kaila.
Kaila menekan angka pada tombol ponselnya dan menunggu teleponnya diangkat.
“Halo, dengan Cahyo dari Percetakan Segara.”
Terdengar suara seorang pria menjawab telepon Kaila, “ada yang bisa saya bantu?” lanjutnya.
Kaila terkejut mendengar suara yang sempat dia hafal di masa lalu.
“Halo. Ada yang bisa saya bantu?” ucap pria tersebut mengulang pertanyaan.
“Mmm ... eh ... Iya, Halo!” kata Kaila tergagap.
“Maaf, Pak saya ingin mengabarkan bahwa ibu anda menjadi korban kecelakaan, dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit Harapan Kita.”
“Innalilahi ... baik, Mbak. Saya segera ke sana. Terima kasih informasinya,” ucap pria tersebut.
Kaila segera menutup teleponnya, dengan gemetar dimasukkannya ponsel itu ke saku bajunya. Dadanya berdebar, terasa nyeri menusuk jantungnya.
*****
“Maaf, Mas.” Kata Kaila menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah pria di depannya. Bulir air mata perlahan jatuh di pipi lembutnya. Mereka berdua diam dalam pikiran masing-masing. Gemuruh suara hujan yang jatuh di atap seng tempat mereka berteduh mengisi suara dalam diam.
“Kenapa, La? Kita sudah membicarakan masa depan dengan manis. Ibuku sangat mengharapkan bisa ketemu kamu. Sekali melihat fotomu, ibuku langsung setuju dan bahkan fotomu telah terpajang di ruang tamu rumahku,” kata Cahyo sambil memegang kedua bahu Kaila.
Kaila tak mampu menjawab. Hanya kata maaf yang berulang kali keluar dari mulutnya. Kaila tidak mungkin menceritakan bahwa ia telah menemukan pria lain yang lebih direstui oleh orang tuanya. Kaila sangat mencintai Cahyo, namun enam bulan terakhir, Kaila merasa nyaman dan dilindungi oleh seseorang yang akhirnya berani langsung melamar di depan orang tuanya.
Bahu Kaila bergerak naik-turun seiring dengan isak tangis yang nyaris tak terdengar. Kaila merasa bersalah, namun juga sedikit menyalahkan Cahyo yang selalu mengulur waktu dan menunda pertemuannya dengan kedua orang tua Kaila. Cahyo sengaja mengulur waktu karena merasa belum siap dengan kondisi ekonominya yang belum mapan.
*****
“Assalamualaikum, Bunda ...” seorang pria berkemeja biru dongker mendekat sambil melipat payung oranye yang dibawanya.
“Wa’alaikumsalam, Ayah.” jawab Kaila sambil meraih tangan kanan pria itu dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
“Kita pulang sekarang?” tanya pria itu.
“Tapi putra ibu itu belum datang. Bunda kasian kalau meninggalkan ibu itu seorang dir,” kata Kaila ragu.
Sejujurnya, Kaila ingin sekali segera pulang. Kaila tidak ingin bertemu dengan putra ibu tadi. Kaila tidak ingin terjadi salah paham dengan suaminya.
“Mbak ...” terdengar suara ibu memanggil Kaila.
“Pulanglah. Ibu tidak apa-apa. Paling sebentar lagi anak ibu sampai.”
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Kaila memastikan.
“Ada banyak perawat di sini. Nanti ibu bisa minta tolong mereka,” jawab ibu yang tidak mau merepotkan Kaila.
Jantung Kaila berdebar. Rasa bersalah itu kembali teringat. Pantas saja Kaila merasa tidak asing dengan wajah ibu itu. Ternyata, Kaila pernah menorehkan luka di hati ibu itu di masa lalu.
“Maafkan Kaila, Bu!” bisik Kaila dalam hati.
Kijang newborn berwarna putih melaju dengan kecepatan sedang menembus lebatnya hujan. Kedua penumpang di dalamnya terdiam dengan aktivitas masing-masing.
Kaila memejamkan matanya dan menghela nafas perlahan. Hujan dadakan sore ini mengingatkan Kaila pada masa lalu yang sangat ingin Kaila lupakan. Rasa bersalah dan kebimbangan yang pernah mendera di masa lalu membuat Kaila tak ingin menemui mereka kembali. Kaila menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir. Kaila meraih tangan kiri lelaki itu dan menggenggamnya, seolah meminta penguatan dalam hatinya. Kaila tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang telah membuatnya nyaman selama ini. Ya, saat itu Kaila memantapkan hati menerima lamaran lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Kaila butuh kepastian, Kaila butuh Laki-laki yang tegas dan mau berjuang bersama dari nol untuk berumah tangga.[]
Bumi Sembada, 27 November 2020
Footnote :
[1] semacam keranjang terbuat dari anyaman bambu
[2] ngajar
Kontributor : Rini Sri Lestari, S.Pd
Editor : Ifaya
Sumber Gambar : Pinterest


Komentar
Posting Komentar